Indonesia tidak dibangun hanya dari pusat pemerintahan. Negeri ini berdiri kokoh karena kekuatan desa-desa, pulau-pulau terluar, masyarakat perbatasan, serta jutaan rakyat yang bekerja dalam diam. Kesadaran inilah yang menggerakkan langkah Sahrin Hamid, Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat, menempuh perjalanan panjang dari Merauke hingga Miangas—dua titik ekstrem yang menjadi simbol utuhnya kedaulatan bangsa.
Perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan politik biasa. Ia adalah pesan yang tegas: perubahan harus dimulai dari bawah, dari tempat-tempat yang sering kali luput dari sorotan. Ketika seorang pemimpin memilih untuk hadir di wilayah perbatasan, ia sedang menyampaikan bahwa tidak ada rakyat yang terlalu jauh untuk diperjuangkan dan tidak ada daerah yang boleh tertinggal dari arus pembangunan.
Di Merauke, realitas tentang ketimpangan akses ekonomi dan infrastruktur menjadi cermin bahwa pemerataan belum sepenuhnya terwujud. Sementara di Miangas, semangat nasionalisme masyarakat perbatasan justru begitu kuat meski berada jauh dari pusat kekuasaan. Dari dua titik itulah lahir kesimpulan penting: Indonesia membutuhkan politik yang tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi pada pemerataan kesejahteraan.
Politik yang Turun Tangan, Bukan Sekadar Retorika
Selama ini, banyak masyarakat merasa politik hanya hadir saat musim pemilu. Janji disampaikan, baliho dipasang, tetapi setelah itu kehadiran terasa menjauh. Gerakan Rakyat mencoba mematahkan pola tersebut dengan menghadirkan pendekatan berbeda: dialog langsung, mendengar aspirasi, dan merumuskan solusi berbasis kebutuhan nyata.
Ketika berada di Manado, Sahrin berdiskusi bersama mahasiswa, tokoh masyarakat, dan aktivis lokal. Tidak ada panggung megah, tidak ada jarak formalitas yang kaku. Yang ada adalah percakapan terbuka mengenai masa depan pendidikan, peluang kerja, ketahanan ekonomi daerah, hingga peran pemuda dalam menentukan arah bangsa.
Pendekatan ini menegaskan bahwa politik seharusnya menjadi ruang partisipasi kolektif. Ketika rakyat dilibatkan secara aktif, kebijakan yang lahir akan lebih relevan dan berdampak. Politik bukan lagi alat segelintir orang, melainkan instrumen bersama untuk menciptakan perubahan.
Kepemimpinan yang Memilih Jalan Terjal
Sahrin Hamid bukan figur yang asing dalam dinamika politik nasional. Pengalamannya di berbagai posisi strategis memberinya pemahaman mendalam tentang sistem pemerintahan dan manajemen kebijakan. Namun yang membedakannya adalah pilihan untuk kembali membangun gerakan dari akar rumput.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu berada di kursi empuk kekuasaan. Justru keberanian meninggalkan zona nyaman dan turun langsung ke masyarakat menjadi indikator integritas seorang pemimpin. Bagi Sahrin, kekuasaan hanyalah sarana, bukan tujuan akhir.
Partai Gerakan Rakyat kemudian memformulasikan arah perjuangan yang jelas: memperjuangkan keadilan sosial, memperkuat sektor pendidikan, membuka akses ekonomi yang lebih luas, dan memastikan pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di kota besar. Jika pemerataan tercapai, maka fondasi bangsa akan semakin kokoh.
Konsistensi dalam Membela Prinsip Keadilan
Selain isu kesejahteraan, Gerakan Rakyat juga menunjukkan keberpihakan terhadap prinsip hukum yang adil. Ketika muncul dinamika hukum yang dinilai sarat kepentingan politik terhadap figur publik seperti Tom Lembong, sikap tegas diambil untuk mendorong penegakan hukum yang objektif dan transparan.
Sikap ini menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti pada aspek ekonomi dan sosial. Demokrasi hanya akan sehat jika sistem hukum berdiri independen dan tidak menjadi alat kekuasaan. Ketika hukum ditegakkan secara adil, kepercayaan publik terhadap negara akan tetap terjaga.
Menghidupkan Peran Generasi Muda
Perjalanan lintas negeri ini juga memperlihatkan satu kekuatan besar: energi generasi muda. Mahasiswa dan pemuda di berbagai daerah menyambut dialog perubahan dengan antusias. Mereka ingin dilibatkan, didengar, dan diberi ruang untuk berkontribusi.
Sejarah Indonesia membuktikan bahwa perubahan besar selalu melibatkan anak muda sebagai motor penggerak. Karena itu, Gerakan Rakyat membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi generasi muda untuk menjadi bagian dari transformasi sosial dan politik. Masa depan bangsa tidak bisa hanya ditentukan oleh generasi lama; ia harus dibangun bersama.
Saatnya Bergerak Bersama untuk Indonesia yang Setara
Perjalanan dari ujung selatan ke ujung utara negeri menjadi simbol bahwa Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak boleh terpecah oleh ketimpangan. Pembangunan yang berkeadilan bukan pilihan, melainkan keharusan. Rakyat di perbatasan memiliki hak yang sama dengan mereka yang tinggal di pusat kota.
Kini, tantangan terbesar bangsa bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi pemerataan hasil pembangunan. Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang berani hadir, mendengar, dan bekerja nyata. Kepemimpinan yang tidak hanya berbicara tentang visi besar, tetapi mampu mengeksekusi langkah konkret.
Gerakan Rakyat mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak sekadar menjadi penonton. Perubahan memerlukan partisipasi aktif, solidaritas, dan keberanian mengambil sikap. Dari Merauke hingga Miangas, pesan yang dibawa jelas: masa depan Indonesia harus dibangun bersama, dengan keadilan sebagai fondasi dan kesejahteraan sebagai tujuan.
Saatnya bergerak. Saatnya menyatukan tekad. Karena Indonesia yang kuat lahir dari rakyat yang diberdayakan dan pemimpin yang benar-benar hadir untuk mereka.